Selasa, 15 Maret 2016

Notes Left Behind : 135 Hari Terakhir Bersama Elena Gadis Cilik Penderita Kanker Otak

Area Buku | Resensi buku baru.


Judul Buku : Notes Left Behind : 135 Hari Terakhir Bersama Elena Gadis Cilik Penderita Kanker Otak
Pengarang : Brooke & Keith Desserich
Penerjemah : Isma B. Soekoto
Editor : A. Rauf
Cover : Reza Alfarabi
Penerbit : Edelweiss
Tahun : 2009
Tempat : Surabaya
Kelas : 004.65 BRO n
Subjek : Kisah Nyata
Kolasi : xi, 459 p. : ill ; 20 cm
ISBN : 9789791962421
Ringkasan Isi : 

Buku ini bercerita tentang seorang gadis bernama Elena Desserich. Lahir pada musim salju di bulan desember. Usianya baru menginjak 5 tahun. Anak pertama dari pasangan keluarga Desserich. Adiknya bernama Gracie Desserich. Semuanya berawal dari hari setelah perayaan Thankgiving. Tiba-tiba ia kehilangan suaranya, berngsunr-angsur merasakan kelumpuhan pada tungkainya kanannya dan mengalami serangan akit kepala. Pertama-tama kami mengira itu hanyalah gangguan tenggorokan, kemudian migrain, namun tiga hari kemudian

diberitahukan bahwa ia menderita tumor otak. Akhirnya setelah berkonsultasi selama tiga hari, keadaanya secara resmi dinyatakan sebagai sebuah glioma batang otak yang menjalar. Masih lebih buruk lagi, tampaknya penyakit itu tidak dapat dioperasi sehingga mereka menyebut kemungkinan hidupnya tipis. Ia seorang gadis cilik yang kuat dan bersungguh-sungguh dengan kecerdasan dan kearifan sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga Desserich. 

Elena Desserich baru berusia lima tahun ketika ia didiagnosa menderita kanker otak yang tak dapat disembuhkan lagi dan yang hanya memberinya waktu 135 hari lagi untuk hidup. Hati orangtua Elana, Brooke dan Keith, sangat berduka karenanya. Dan juga mencemaskan adik perempuan terkasih Elena, Gracie yang ketika itu baru berusia empat tahun. Gracie baru saja mempertahankan semangat dan kenangan akan Elena, keluarga Desserich mulai menulis sebuah jurnal tentang hari-hari terakhir putri mereka. Mereka tidak menduga bahwa buku harian mereka dapat menggugah perhatian dunia.

Ketika mereka menjalani hari-hari yang sangat bernilai selama berbulan-bulan. Setiap hari adalah hadiah dan setiap hari yang lainnya adalah kenangan. Elena memperhatikan sebuah komunitas tentang cinta dan kehidupan itu sesungguhnya. Dalam waktu singkat kehidupannya, gadis mengagumkan ini meninggalkan sebuah karya seni lukisan ciptaanya sendiri yang digantung pada dinding sebuah museum yang mengungkap penyempurnaan sebuah rangkaian harapan luar biasa. Lukisan itu mengilhami sebuah usaha hingga saat ini untuk membantu anak-anak di mana pun dalam perjuangan mereka melawan kanker otak.

HOROR STORIES

Area Buku | Resensi buku baru.


Judul Buku : HOROR STORIES
Pengarang : Tunku Halim
Penerbit : Matahari
Edisi : 1
Tempat : Jakarta Selatan
Kelas :  899.221 HAL h
Subjek : Horor - Novel
Kolasi : 460 p. : ill ; 20 cm
ISBN : 9786021139813
Ringkasan :  

Tapi hari ini, di hari yang cerah ini, selagi duduk di meja kerja sambil memandang ke luar pintu balkon menatap gulungan  ombak, mendengarkan suara pecahan ombak menghantam karang di samping rumah, aku memikirkanmu, hanya aku. Hal pertama yang terbesit dalam benakku adalah aku berharap kau masih hidup. Sebab kehidupan ini memiliki kencenderungan yang agak mengganggu, yaitu mendatangkan kematian. Aku tahu informasi tentang kematian ini adalah kabar buruk yang mengejutkan, bahkan mungkin merusak suasana harimu.

Kau mungkin perlu mengupdate status facebook mu. Aku baru tahu aku akan mati. Jangan heran jika setelah itu kau akan menerima banyak komentar yang menanyakan apakah kau menderita penyakit yang mematikan. Tak seorangpun  ingin tahu bahwa dirinya akan mati. Bahkan, aku berani menyimpulkan, tak seorang pun ingin mati.

Ada yang mengatakan, inilah alasan mengapa cerita horor banyak digemari. Karena cerita horor menyuguhkan kisah-kisah yang menggelisahkan hingga kita dihadapkan pada ketakutan kita, dan ketakutan terbesar kita bukanlah kematian orang-orang yang kita sayangi yang tentunya sungguh memilukan apabila memang terjadi tapi jatah waktu kita sendiri yang terbatas di dunia ini. 

Kematian kita sendiri.
Dan hal itu sangat mengerikan, kawan.
Kita sering kali berlindung di balik citra surga.

Cita surga sering disebut-sebut jika bahasan kematian ditilik dari sudut pandag agama. Mungkin dari kata-kata guru spiritual atau dari wacana yang menghibur dalam buku-buku agama. Tetapi banyak orang yang tanpa disengaja dan tanpa disadari akan beralih pada pemikiran bahwa kisah-kisah horor hanyalah wujud hiburan semata, penarik perhatian dalam waktu senggang, mungkin juga dianggap sebagai sepotong hiburan yang menyenangkan. Padahal pada kenyataannya makna yang sebenarnya jauh lebih dalam, lebih gelap dan mengerikan.

Dengan banyaknya hal yang ditakuti, banyak pula ragam kisah mengerikan. Kau akan menemukan berbagai macam kisah mengerikan di sini, dari horor yang ekstrem seperti, "Kecupan Si Penggali Kubur" dan "Empat Angka untuk Eric Kwok" hingga yang lebih ringan "Mr.Petronas" dan "Dukun Tersakti dan Teredan" hingga yang lebih gothic seperti "Malay Magick" dan "Jalan Pemakaman 44". Bahkan ada sebuah kisah non-horor yang disertakan :"Halaman Ini Sengaja Dibiarkan Kosong". Cerita ini sengaja diselipkan untuk menyurutkan ketegangan.